Pagi meruapkan aroma yang khas, dingin membisu, penuh magis yang bisa membuat orang-orang tertegun pada indahnya mentari bangkit dari persembunyiannya. Seusai shalat subuh, aku segera menyambar segala aktivitas pagi. Mandi dan bersiap ke sekolah. Itu sudah aku lakukan selama 11 tahun ini. Sekarang aku sudah duduk di kelas 2 madrasah aliah.
Namaku Fania, gadis berusia 16 tahun dengan segala imaji seorang anak baru gede. Dan tentu saja sudah mengenal sebuah kata yang sudah kudapati di segala majalah, tv, koran, bahkan yang sering didendangkan teman-temanku di kelas. Ya, cinta.
Aku mulai memasuki gerbang sekolah dengan matic hitamku. Segera kuparkir tungganganku ini tepat di bawah pohon depan sekolah, parkiran. Tak sampai lima menit aku merapikan jilbab yang sudah lumayan berantakan karena terpaan angin selama di motor tadi. Setelah keluar dari area parkir, aku berjalan menyusuri rerumputan taman sekolah. Seperti angin yang tiba-tiba berhembus di pagi yang dingin itu, sesosok lewat begitu saja di depanku.
Hampir menyambar tas mukena yang kubawa. Aku tersentak dan menghentikan langkahku.
“eh maaf, ya. Aku gak lihat-lihat tadi. Kamu gak apa-apa, kan?” ujarnya sambil menatapku dengan mata sipitnya.
“iya gak apa-apa, kok.” Jawabku pintas saja.
“syukurlah. kalo gitu aku duluan ya.” Tanpa menunggu jawabanku, dia segera berlari menerobos dinginnya pagi.
Ia begitu tergesa-gesa di senin ini. Pemandangan unik bagiku. Kenapa itu unik? Unik dalam arti lain sih, hihi. Dia adalah Adri, anak ipa yang menurutku lumayan cuek. Sosok yang aku kagumi. Semua itu berawal dari sebuah seminar.
Kala itu, aku lagi semangat-semangatnya di kelas. Kenapa semangat? Ya karena pelajarannya asyik, bahasa jepang. Pelajaran kedua favoritku setelah bahasa inggris.
Bagiku belajar bahasa adalah belajar tentang dunia. Itulah kenapa aku memilih jurusan bahasa di sekolah ini. Karena satu, aku ingin keliling dunia. Gak mustahil dong. Tiba-tiba seorang kakak kelas yang tidak lain adalah ketua osis memberiku kode untuk keluar kelas. Dia memberiku secarik kertas berisi undangan untuk mengikuti sebuah seminar yang dilaksanakan di salah satu kampus di daerahku.
“kamu ikut ya, Fan. Ntar temen-temen dari jurusan lain ada juga kok.” Kak Pito sedikit memelas.
“aku pikir-pikir dulu ya, kak. Besok aku kabarin deh.”
“oke sip. Aku tunggu ya.” Dia segera berlalu dari hadapanku.
Lagi-lagi seminar. Tahu kan? Harus duduk manis di sebuah ruangan sambil mendengar pemateri memaparkan penjelasannya, setelah itu mengajukan sebuah pertanyaan dan pulang dengan sebuah amplop putih tipis. Sebenarnya aku ingin, tapi sedikit enggan.
Karena saat itu aku tengah dipusingkan oleh setumpukan tugas yang mulai merajalela di meja belajarku. Itu sangat membuatku pusing sampai-sampai permen sekaleng pun bisa habis karena kepusingan ini. Aneh bukan?
Aku dan sembilan teman lainnya segera bergegas masuk ke ruangan yang bisa dibilang cukup luas itu. Ternyata ini adalah ruang serbaguna di kampus ini. Aku mengambil tempat duduk tepat di sebelah Adri. Sengaja sih, hihi. Dan nyatanya, prasangka cuek yang aku labelkan padanya sedikit terkikis dengan keramahannya saat kami membahas beberapa argumen dari para pemateri.
Kami terlihat begitu akrab untuk tipe orang yang baru saja berkenalan. Bagiku itu adalah kesempatan yang sangat langka.
Ada sedikit kelegaan saat menerima tawaran untuk ikut seminar ini. Saat aku tahu Adri juga ikut, tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari ke arah Kak Pito yang saat itu tengah bersiap untuk pulang.
“eh eh tunggu bentar, Kak.” Aku sedikit terengah-engah.
“ada apa, Fan?”
“iya kak, aku mau ikut seminar itu.”
“bener nih? Kalo gitu besok pagi standby di sekolah jam 8 ya. On time lho.”
“pasti, kak.”
Setelah berakhirnya hari itu aku tahu, Adri adalah tipe orang yang menyenangkan. Dia sedikit humoris, kritis, tapi satu yang sedikit aku tak suka. Dia orangnya datar, terlihat tidak peduli. Terutama saat aku mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan beberapa hal.
To: Adri, Sent at 07.25 p.m
Assalamualaikum
Ini bener nmornya Adri?
Ada sedikit perasaan takut. Entah takut karena apa. Saat aku merebahkan tubuh ini di atas ranjang dengan seprai ungu, handponeku bergetar tanpa nada. Ada pesan masuk.
From : Adri, Received at 07.30 p.m
Waalaikumsalam. Iya bener, ini siapa?
Segera jemari ini langsung menekan tombol-tombol qwerty. Ada secuil rasa senang di hati.
To : Adri, Sent at 07.32 p.m
Oh enggak. Aku cmn mastiin aja. Ini aku Fania.
Satu jam kemudian balasan darinya tak kunjung masuk. Seketika rasa malas mulai melanda. Tak sampai lima menit aku sudah terlelap. Padahal jam di kamarku baru menunjukkan pukul 08.05 p.m.
Entah sudah berapa banyak pesan singkat yang ku kirimkan dari ponselku ini. Dan setiap jawabannya selalu sama, hanya singkat dan datar-datar saja. Tujuanku hanya satu, ingin mengenalnya lebih dekat. Dan entah kenapa, hati ini mulai tertarik pada sosok misteriusnya.
Aku ingin ia menoleh pada sisi ini, sisi di mana aku bersembunyi. Tapi ku rasa harapan itu perlahan memudar. Ia mengetahui rasa ini tapi tak menggubrisnya.
Ingin sekali ku teriakkan beberapa kata tepat di telinganya, “apa kamu tak berpikir? Betapa sakit jika kau sudah membuat setangkai bunga mekar tapi malah meninggalkannya tanpa setetes cinta kasih.” Tapi mustahil bila kalimat itu sampai padanya. Aku lebih memilih untuk bersembunyi.
Menyesal dan menyesal, membuat tulisan yang bisa dibacanya namun tak pernah dimaknainya. Tapi apapun itu, aku akan tetap ada di sini, di sisi ini. Sampai akhirnya ia menoleh dan memberi setetes cinta dan kasih itu.
#By Riska dian