
Matahari hendak terbenam,langit kemerah-merahan,angin bersayu-sayu.Kemarin,hari Kamis.Seperti biasa aku dan teman-temanku ke Menara Kudus dengan niat untuk berdo’a dan mengaji.Tapi hari itu,semua temanku sibuk dengan urusannya masing-masing.Kecuali Anisa yang biasa kupanggil manis.Aku dan Anisa tetap kekeh untuk ke Menara walau hanya berdua.
Kami mengendarai motor ke Menara milik anis.Sebelumnya,Manis sudah dilarang kakaknya untuk membawa motor itu.Dikarenakan motor itu tidak memiliki STNK dan surat-surat penting lainnya.Tapi manis tetap kekeh untuk membawanya,hal itu dilakukan oleh Manis karena saat itu motorku tidak dirumah.
Kami tak menghiraukan nasehat tersebut.Dengan laju yang cepat kami berangkat.Akhirnya,sampai juga diparkiran Menara.Ku terima kartu cek parkiran.Setelah kami meletakkan motor didalam parkiran,kami hendak menaruh cek tersebut dimotor.”Lhoo..kok Cuma satu ya?”Heranku.”ya..iya..”Sahut Manis.”Alahh mungking,karena ramai..Maka dari itu dikasih satu.”Kataku.”Ha..mungkin saja”Sahut Manis.
Kami meninggalkan parkiran dan masuk ke Makam tanpa rasa khawatir.Dibikin asyik aja gituu.Setelah selesai berdo’a di Makam,kami keluar dan hendak ke Taman,depan Menara.Disana kami selfie-selfie dan foto bersama.”Hey..Beb,”Kata Windi.”Eh..windi”Sahutku terkejut.
Di taman kami bertemu Windi dan teman-temanya.Hari mulai kelam.Adzan maghrib telah berkumandang.”Ayo Winn..duluan ya”Kataku pada Windi.”iyaa”Jawab Windi.Aku dan Manis meninggalkan taman dan berjalan menuju masjid,untuk sholat terlebih dahulu.
Setelah sekitar sepuluh menit,kami berjalan menuju tempat parkir dengan senang dan melantunkan lagu bersama.Setelah sampai di parkir,Manis melihat sekeliling parkiran.”Ris..ris..semua mendapat cek dua,tapi kok kita Cuma satu ya??”Haren Manis dengan ketakutan.”Iya..iya..gimana ini??tapi ah sudahlah kita keluar saja”Berusaha membuat tenang.
Ku pakai helm,dan ku hidupkan motor nya.Manis menyerahkan cek yang tadi dimotor pada tukang parkir yang bertugas didalam,untuk membantu peziarah mengeluarkan motor.”Grengg”Ku gas motor pelan-pelan,dan keluar dari parkiran tersebut.”Hey..heyy..berhenti!!”Teriak petugas parkir yang bertugas mengambil cek yang dipegang oleh peziarah.
“Ris..ris..berhenti!!”Suruh Manis panik.”Aduhh..gimana ini ris?? Kita kan enggak megang cek nya.Kita Cuma dikasih cek satu.”Gumam Manis panik.Saat itu kami sudah berada diluar gerbang parkiran.Tapi,petugas parkir yang diluar tersebut menghentikan kami.”Lalu kita gimana,nis?”Gelisahku.
Kumatikan motornya,berhenti,dan turun dari motor.Kami sungguh-sungguh panik saat itu.Ku lihat petugas yang menghentikan kami bercerita pada tukang parkir yang di dalam tadi.Sebut saja Pak Park.Pak park mengahmpiri kami yang ada diluar tersebut.”Hey,mana cek mu??”Tanya pak park dengan galak.Kami kebingungan tak menentu.”Lho!!pak,tadi kami Cuma dikasih satu,bukan dua”Jelas Manis.Aku sangat takut,badanku gemetar semua.
“Itu tidak mungkin,semua dikasih dua cek.Mana mungkin Cuma satu.Kamu ngaku aja kalau hilang.”Kekeh pak park.”Sumpah pak,kami Cuma dikasih satu.Jika hilang pasti kami mengaku.”Jelas Manis sambil menangis.”Iyaa pakk..Kami tak mungkin berbohong,sumpah demi Allah pak.”Lanjutku.
Tak terasa air mata kami menetes membasahi pipi,keringat takut bercucuran.”Sudah,masukkan motor kalian kedalam,dan coba jelaskan.”Perintah pak park dengan tegas.Ku hidupkan mesin motornya,dan masuk kedalam.
Pak park memarahi kami habis-habisan.”Hey,nak jika cek itu cuma satu yang diberikan kalian.Pasti semua peziarah juga satu.”Marah pak park.”Heyy..Dengarkan kami.Kami memang Cuma diberi satu.”Bentakku.Tapi,jika dipikir-pikir memang tidak mungkin satu.Tapi yang jelas saat kami masih didalam parkiran itu memang satu.Dan tak mungkin hilang di dalam Makam.Di parkiran saja sudah tidak ada,apalagi di dalam Menara.
“Kalian sudah biasa kesini bukan??”Tanya pak park dengan nada yang tak enak di dengar.”Iyaa”Jwab kami,dengan nada datar sambil menangis.”Lalu kenapa kalian dikasih satu tidak protes atau bilang.Jangan sekali-kali bilang sumpah disini.”Bentak pak park.”Ya,tadi emang awalnya kami sudah ragu,tapi saya kira karena ramai,dikasih satu-satu.”Ku coba menjelaskan dengan tegas.
Pak park sungguh ngotot tak percaya.Sedangkan bapak-bapak yang tadi memberi cek tersebut hanya senyam-senyum tak jelas.Kami mencoba menjelaskan dengan tegas.Rasa tak pecaya pak park,sungguh membuat kami emosi dan menangis.
“Itu namanya kalian lucu,sudah tak ada alasan untuk itu.kalian telfon keluarga kalian untuk membawa STNK dan KTP.Cepat!!”Suruh pak park.Semua peziarah yang ada di parkiran,pandangan mereka tertuju pada kami.”Hasyaahh…Pak ini dibilangin gak percaya,punya telinga gak sih tuh orang?padahal bukan dia yang tadi memberi cek kami.Tapi sotoy banget.”Kataku dalam hati.
Kami berusaha menjaga sikap.Manis memberi pesan lewat BBM pada kakaknya,tapi centang.Pak park meninggalkan kami dan melanjutkan pekerjaannya.”Aduhh..hhh..gimana ris??Kamu kan tau kalo motor ini tidak ada STNK nya dan surat-surat apapun sama sekali.”Takut Manis sambil menangis.”Ya nis..aku atu itu.Tapi sekarang kita harus gimana??”Tangisku.
Rasa sayup-sayup tak menentu menghantui kami.Kami berpura-pura untuk mencari cek itu ke dalam.Kami berjalan menuju ke dalam.Tapi cek itu pasti tidak ada,jelas-jelas di dalam parkiran sudah Cuma satu.
Kami berhenti di salah satu gang sempit yang sempit juga sepi.Disana kami menangis kebingungan.Kakaknya Manis diBM centang,ingin menghubungi tapi kami tak punya pulsa,punyanya kuota.Ingin beli pulsa tapi kami lupa bawa uang.Hanya 4rb yang ada di saku Manis,itupun ditemukan tanpa sengaja.
Kami hanya bisa memberontak diri.Itu sungguh membut kami konflik batin.Rasanya aku tak kuat untuk hidup.Badan kami lemas semua,seakan ingin pingsan.”Haduhh..andai saja tadi di belakang kita gak ada polisi,udah cabut aku.”Gertakku menyesal.”Iya,ris..terus kita harus gimana,pulsa kita gak punya,uang cuma 4rb,kakakku diBM centang..Kita sungguh sial.”Sesal manis sambil menangis.
Aku memutuskan untuk mengajak Mais ke depan Menara,barangkali ada teman kami disana.Ku berlari dengan cepat bersama Manis.”WOYY..cewek,jangan lari-lari.Nanti jatuh lho.”Ucap salah seorang cowok,sebut saja kemploh.Si kemploh itu gaje banget.”Alahh banyak omong lou,diam!!”Bantahku pada kemploh sambil berlari cepat.Si kemploh dan tema-temannya itu tertawa keras.
Tapi kami tak menghiraukannya dan terus berlari.
Sesampai di depan Menara kami mondar mandir,kayak anak hilang.Banyak yang melihat kami kebingungan,tapi kami mengabaikannya.”Nis,disini gak ada orang yang kita kenal,lalu kita gimana??”Bingungku sambil toleh kanan kiri,depan belakang.Kami menangis kebingungan.
Dan aku berfikir aku akan membuka FB dan mencari sahabatku yang barangkali sedang ON.Dan ternyata,hanya satu sahabatku yang sedang ON yaitu Hesti.Ku kirim pesan dia lewat messanger tapi tak ada jawaban.Huftt…sinyal disanapun tak mendukung sama sekali..JELEKK banget.
“Alahh,nih sinyal sama Hesti mangkelin banget.sinyalnya buruk,hesti gak bales-bales lagi,,”Greget Manis tak sabar menunggu balasan.Ku lihat Hp ku selalu sambil berdiri di taman barangkali Hesti membalas.Kami pergi ke masjid untuk duduk dan menunggu balasan,tapi tak ada pesan masuk sama sekali.
Ku cari lagi temanku yang ON,tapi yang saat itu ON hanyalah teman sebaya walaupun teman dekat.Tapi apa guna kalau begitu.Yang kami butuhkan saat itu sahabat sekaligus tetangga dan yang pastinya bukan teman sebaya.
“Nis..nis Pak sutomo ON nih..”Ucapku gembira.Pak sutomo adalah guruku waktu SD.Beliau dulunya guru aqidati.Beliau biasa dipanggil Pak tomo.”Tapi apa Pak tomo mau??”Kata Manis ragu.”Sudahlah tak ada pilihan lain,saat ini kita butuh bantuan.Apa salahnya jika kita coba dulu?”Jelasku.Dan akhirnya kami memutuska untuk mengirim pesan berupa pesan permintaan pertolongan.Disitu kami merasa sangat tegang,berharap Pak tomo membalas.Kami hanya bisa memberontak diri,dan menangis”hemm..hhh..gimana ris nasib motorku jika tak dapat diambil?”Gelisah Manis.Kami berfikir yang bukan-bukan kala itu.SUMPAH DEHHH…Hal yang tak diduga bikin kami susah.
Tak lama kemudian Pak tomo membalas”Perlihatkan STNK mu aa,,nduk!!”Balas Pak tomo.Aku menjelasakan lewat pesan bahwa motor itu tak ada STNK nya.Ku ketik pesan dengan rasa tak karuan.Pesan dari Pak tomo pun masuk.”Ku tunggu di luar parkiran.”Balas Pak tomo.
Kami berlari dan menuju ke parkiran tadi.Tanpa disengaja kami bertemu si kemploh yang gaje itu”Mbak,minta pin BBM dong!”Kata si kemploh sambil tertawa.”PADON AE..”Sahut Manis kesal.Kami terus berlari.Dan akhirnya kami bertemu Pak tomo di luar,dan kamipun menjelaskan yang sebenarnya terjadi sambil menangis keras.
“Sudah tenanglah dulu!!”Kata Pak tomo berusaha menenangkan kami.”Ada Asyrofi gak ya?”Gumam Pak tomo.Pak tomomasuk ke dalam dan mencari temannya yang juga bekerja disana,namanya Mas Asyrofi.
Saat itu kami masih di luar,Manis membuka BBM nya,tapi BM Manis yang diberikan pada kakaknya masih centang.Langit semakin gelap,hamparan hitam luas dihiasi bintang-bintang berkilau,angin malam semakin bersayup tayu.Kami menyusul Pak tomo ke dalam parkiran dengan keadaan yang masih menangis,air mata ini terus mengalir begitu deras.
Akhirnya Pak tomo menemukan temannya yaitu Mas Asyrofi.Pak Tomo dan Mas Asyrofi berusaha membantu kami menjelaskan pada Pak Park.”Saya sebenarnya kasihan pada mereka.Dan saya membuat urusan ini mudah dan sesegera mungkin clear.Yaitu hanya menujukkan STNK dan KTP saja.”Jelas Pak park.”Hadh..kasihan apaan?kalau kasihan ya seharusnya percaya.Jika kami punya STNK ya,kami sudah tunjukkan dari tadi,n gak perlu ssh-susah pura-pura mencari cek yang jelas-jelas emang gak ada.Andai bapak tau kalau motor itu gak ada STNK nya..UPS!!Kalau bapak ini tau,ya ntar malah tambah rumit nih masalah.Bisa-bia diseret ke kantor polisi nih motor”Gumamku dalam hati sambil menangis.
Pak tomo dan Mas Asyrofi tidak memberi tau bahwa motor itu kosongan.”Pak saya guru mereka waktu SD,keluarganya tidak dapat dihubungi saat ini.Mohon maafkan mereka,pak.Mereka belum terlalu remaja,pak!!”Bela Pak tomo pada kami.”Ya, mas sudahlah lepaskan saja mereka!”Lanjut bela Mas Asyrofi.
“Tapi peraturan tetaplah peraturan,orang yang dari Jepara saja saya suruh untuk nunjukin STNK juga.Itu udah hal yang mudah,setelah itu kelar semuanya.Saya sudah biasa ngurusin masalah-masalah kayak gini.Gak mau jujur lagi mereka,malah nyalahin orang.”Ujar Pak park.
“Ehh..”Aku hendak membantah tuduhan yang dilontarkan Pak park.Tapi Pak tomo memberiku kode berupa kedipan matamdengan arti jangan membantah,biarkan dia berimajinasi.Mungkin itu artinya.Aku menahan mosi dan kami tetap menangis dengan syahdu.Hingga kami tak tau apa saja yang telah dibicarakan.
Yang kami tau intinya Pak tomo dan Mas Asyrofi tetap berusaha membela kami.Kami duduk ,menangis termengu.”Haishh..nih Bapak park dibilangin ngeyel n ngotot banget sih..diblangin gak percaya.Alah udahlah pak kami biarkan kau berimjinasi dan bahagia.Yang penting kami dan tuh motor balik deh.”Batinku.
Pak tomo tiba-tiba dating menghampiri kami dan berkata”Sudah,ayo kita pulang.Jangan nangis lagi.Dan minta maaflah pada bapak yang memberimu cek tadi.”Suruh Pak tomo.
“Kami minta maaf,pak”Ucap kami terbata-bata sambil menangis dan bersalaman pada Pak park.”Iya,lain kali jangan berbohong dan jangan ulangi pebuatan itu lagi!”Jawab Pak park.
“Iya,pak.”Sahut kami.Dari hati ku berkata”Hasyahh,kami kan gak bohong,pak.Tapi ya sudahlah,kami juga salah,karena kami tidak lapor dari sebelumnya kalau Cuma data cek satu.Itulah kesalahan dan bodohnya kami.”
Aku dan Manis mendekati petugas parker yang member cek kami tadi.Kami meminta maaf,tapi Bapak itu hanya senyum-senyum gak jelas seperti tadi.”Nih Bapak,Wali atau manusia biasa ya??Kok dari tadi senyam senyum gakjelas”Tiba-tiba dalam benakku muncul pertanyaan itu.Tap ku buang hal yang gak penting itu.”Makasi banyak ya,Pak,Mas!!”Ucapku pada Pak tomo dan Mas Asyrofi.”Iya,sudah sana pulang.Jangan dipikir lagi itu masalah.”Kata Pak tomo dan Mas Asyrofi.”Iya,pak,mas.”Sahut kami.
Ku pakai helm dan kami segera keluar dari parkiaran tersebut.”Makasih,pak.Permisi.”Ucap kami pada para petugas parker itu dengan mata yang masih berkaca-kacak.
Kami merasa sedikit lega,tapi hanya 5%,dan 95% nya masih bingung.Itu masalah udah kelar apa belum yaa??Mengingat tu,kami menangis sejadi-jadinya dan menjerit sekencang-kencangnya kayak orang gila.
Setelah kejadian itu,terasa dihati seperti trauma atau kapok banget.Aku merasa kapok untuk ke Menara.Walaupun itu naik motor yang ada STNK nya,pakai sepeda,ataupun jalan kaki,Tapi memang benar benar benar kapok rasanya.
Itulah pengalaman pibadiku,pada hari Kamis kemarin, yang saya rekap dalam bentuk cerpen.Pesanku unuk teman-temanku adalah:
Jangan mengabaikan masah sekecil apapu itu,karena justru dari masalah sesepele itulah akan timbul masalah besar dan tak diduga.
Jangan malu untuk bertanya,karena hal itu akan menyebabkan kita sesat di jalan.
Tetap jaga perilaku walau seemosi apapun kita.Dan sabarlah selalu dalam mengahadapi ujian yang diberi ALLAH pada kita.
Ada juga pesan untuk para guru juga,yakni:
Jangan pernah lupakan seseorang yang pernah menjadi anak kita di sekolah yaitu seorang murid.Walau mereka sudah menjadi bekas murid,sesungguhnya merekalah yang akan menjadikanmu sebagai motivator besar.dan mereka akan selalu mengingat jasa-jasamu dan akan selalu munjungjung namamu.
#By Riska dian